DAS Lakambula merupakan salah satu sistem ekologis penting di Pulau Kabaena yang memiliki keterkaitan erat antara kawasan hulu, badan sungai, wilayah permukiman, lahan pertanian, kawasan pesisir, hingga wilayah laut. Keberlangsungan fungsi DAS tidak hanya ditentukan oleh kondisi tutupan hutan dan sumber-sumber air di wilayah hulu, tetapi juga oleh pola pemanfaatan ruang dan sumber daya alam yang berlangsung di sepanjang bentang alam DAS.
Dalam konteks tersebut, keberadaan masyarakat dan desa-desa yang berada dalam bentang DAS Lakambula memiliki posisi strategis. Desa Tangkeno, Desa Tirongkotua, Desa Rahadopi, Kelurahan Teomokole, Kelurahan Rahampuu, dan Kelurahan Sikeli merupakan wilayah yang memiliki keterkaitan langsung maupun tidak langsung dengan keberlangsungan fungsi ekologis DAS Lakambula.
Masyarakat di desa-desa tersebut memiliki pengetahuan, pengalaman, serta sejarah panjang dalam memanfaatkan sumber daya alam. Pengetahuan lokal mengenai sumber air, hutan, lahan pertanian, sungai, mata air, kawasan pesisir, serta perubahan lingkungan merupakan sumber informasi penting dalam memahami kondisi DAS secara menyeluruh.

Di sisi lain, perubahan penggunaan lahan, aktivitas ekonomi, pembangunan infrastruktur, eksploitasi sumber daya alam, perubahan pola pertanian, serta berbagai aktivitas lainnya dapat memberikan tekanan terhadap fungsi ekologis DAS. Tekanan tersebut berpotensi menimbulkan perubahan kualitas dan kuantitas air, erosi, sedimentasi, degradasi lahan, berkurangnya keanekaragaman hayati, serta meningkatnya kerentanan masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam.
Karena itu, diperlukan sebuah proses partisipatif untuk menggali pengetahuan dan pengalaman masyarakat mengenai kawasan penyangga DAS Lakambula, sekaligus mengidentifikasi wilayah-wilayah penting yang perlu dipertahankan, dipulihkan, atau dikelola secara bersama.
Tanggal 8 September 2026 telah dilaksanakan fokus grup diskusi yang diikuti warga dan pemerintah desa sekitas DAS lakambula. FGD ini menjadi ruang dialog antara masyarakat untuk membangun pemahaman bersama bahwa perlindungan DAS Lakambula bukan semata-mata persoalan kawasan hutan atau sungai, tetapi merupakan persoalan ruang hidup, sumber penghidupan, ketahanan ekonomi, dan keberlanjutan Pulau Kabaena.
Hasil FGD selanjutnya akan menjadi bahan awal untuk penyusunan kajian kawasan penyangga DAS Lakambula secara partisipatif, termasuk pemetaan sosial-ekologis, identifikasi ancaman, potensi ekonomi berkelanjutan, serta penyusunan rekomendasi pengelolaan kawasan penyangga berbasis masyarakat.
Dalam diskusi ini terungkap Sejarah pengelolaan lahan di sekitar Kawasan das lakambula, sumber daya alam yang pernah dikelola warga, potensi yang ada serta ancaman yang dihadapi dalam pengelolaan sumberdaya alam.
